Leave a comment

Sekelumit Kisah Dari Negeri Jiran, Malaysia


Ah, masih terbayang di benak perjalanan ke negeri Jiran beberapa waktu yang lalu. Padahal frase “beberapa waktu yang lalu” tersebut bermakna setengah tahun lalu, tepatnya pada awal Juli 2012. Tetapi ingatan itu masih segar di kepala. Jujur saja, perjalanan itu cukup berkesan bagi saya yang notabene-nya baru pertama kali keluar negeri, walaupun istilahnya  cuma “5 langkah” dari rumah. Apalagi ketika itu membawa nama negara pula ! Soalnya ketika itu saya merupakan salah satu rombongan tim Indonesia, tepatnya tim dari ITS Surabaya yang akan mengikuti hajatan internasional Shell Eco-marathon (SEM) Asia 2012 di Sirkuit kebanggan Malaysia, sirkuit Sepang. Berikut cuplikan perjalanan saya ketika itu.

Pertama, saya kagum dengan moda transportasi yang ada di negeri Jiran secara saya seorang anak teknik, Teknik Mesin lagi. Bagaimana tidak, angkutan kereta api KLIA Ekspress (selevel eksekutif) menjadi satu dengan Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Jadi ceritanya, ketika akhir kompetisi SEM, saya dan tim berencana untuk ke ibukota (Kuala Lumpur) untuk rekreasi. Untuk menghemat waktu perjalanan, Pak Witantyo (dosen pembimbing kami ketika itu) menyarankan untuk menggunakan moda transportasi KLIA  Ekspress. Jadi dari Sepang, kami menyewa semacam minibus untuk mengantar kami ke KLIA. Akhirnya, saya yang ketika itu yang menjadi salah satu “pemegang uang ringgit” tim membeli tiket ke loket yang ada. Tara !! Ternyata harga tiketnya lumayan mahal yaitu sekitar RM 35/orang (kalo di-rupiahkan sekitar Rp. 100.000,-). Namun, ketika telah merasakan KLIA Ekspress memang benar – benar nyaman. Di dalam kereta tersedia wifi dan juga minim getaran. Karena ada embel – embel Ekspress, maka selama perjalanan kereta tidak berhenti sekalipun dan waktu tempuh lebih kurang setengah jam. Konon kata Pak Witantyo, jikalau kami waktu itu menggunakan mobil (travel) dapat memakan waktu 1,5 – 2 jam. jadi istilahnya, baru lier – lier dikit, belum sempat ketiduran, eh ternyata udah tumpeh sampe !

DSC_0615

DSC_0644

Kedua, awalnya saya membayangkan sirkuit Sepang itu berada di tengah kota (karena saya belum pernah buka google untuk melihat lokasinya ketika itu). Ternyata perkiraan saya salah ! Sirkuit tersebut ternyata di wilayah “pinggiran” dalam artian lumayan jauh dari pusat kota dan pemukiman. Namun yang cemerlangnya, hanya sekitar 15 – 20 menit dari KLIA. Sirkuitnya dikelilingi oleh perkebunan dan pohon sawit/palm bertebaran di mana – mana. Lumayanlah, pernah “mencicipi” sirkuit Sepang. Bukan sebagai penonton, melainkan sebagai aktor. Merasakan suasana pit/paddock yang sering digunakan event balap kelas dunia semacam MotoGP & F1 yang penuh dengan atmosfir kompetisi dan tekanan yang tinggi. Tidak hanya itu saja, bahkan sempat “meniduri” aspal sirkuit ! Nah loh..?

599570_412372625476086_374632714_n

528177_412623178784364_2082035839_n

Ketiga, adanya angkutan semacam monorail di kota Kuala Lumpur yang murah, praktis dan cepat serta rutenya hampir mencakup semua sudut kota tentunya sangat bermanfaat besar bagi warga kota. Saya lihat animo warga (baik warga malaysia maupun turis yang memang banyak sekali berlalu lalang dan sudah menjadi pemandangan umum) sangat positif sekali terhadap moda transportasi urban satu ini. Bagaimana tidak, dengan merogoh kocek cuma sekian ringgit (seingat saya untuk rute terjauh biayanya maksimum RM 2,5) bisa bertransportasi dengan cepat. Saya rasa ini patut segera ditiru oleh pemerintah kita, pemerintah Republik Indonesia tercinta. Apalagi untuk Ibukota Negara, Jakarta. Yakin saya, jikalau di Jakarta ada monorail semacam ini (alhamdulillah, Pak Jokowi mulai mengagendakan hal ini), tanpa perlu dihimbau pun, para warga pasti akan berangsur – angsur beralih ke moda angkutan ini.

DSC_0713

malaysia_monorail_big

Keempat, hal ini mungkin terlihat remeh namun jika tidak diperhatikan akan cukup menghambat aktivitas kita. Di Malaysia umumnya menggunakan sistem stop kontak “3 kepala”. Berbeda dengan negara kita yang menggunakan stop kontak “2 kepala”. Jadi, selagi teman – teman tim mencari konverter untuk colokan barang –  barang elektronik terutama 2 gadget vital, HP dan Laptop, saya mengakalinya dengan mengganjal colokan ground-nya dengan korek api.

Kelima, saya sering sekali melihat honda Astrea Star, grand, legenda berseliweran disini. Kelihatannya motor jenis ini masih sangat populer di Malaysia. Beberapa saya lihat masih sangat terawat sekali. Bahkan, pernah saya lihat masih ada dealer Honda yang menjual motor baru untuk tipe tersebut. Beda dengan di Indonesia yang sudah sejak lama dihentikan produksinya.

Keenam, kehidupan malam di Malaysia ternyata diluar dugaan. Sangat terlihat sekali hingar – bingarnya. Kebetulan waktu itu, saya dan tim menginap di salah satu hotel yang terletak di kawasan Bukit Bintang. Ketika malam hari sepulang dari jalan – jalan ke twin tower Petronas, pasar seni dan rumah makan (makan malam ditraktir alumni ITS yang kerja/sekolah di Malaysia), kami mencoba pulang dengan jalan kaki. Terlihat di sepanjang jalan bar, kafe dan diskotik berebut pengunjung dengan cara mereka masing – masing. Gaya tiap bar, kafe dan diskotik tersebut bermacam – macam. Ada yang ala koboi – koboi Amerika dengan pintu masuk kayu dengan 2 daun pintu dan kursi khas ala Amerika pula. Ada juga yang memanjakan mata pengunjung dengan pertunjukkan bartender yang beraksi melempar serta mencampurkan miras berbagai macam merk. Yah, inilah realita yang ada. Westernisasi telah terlihat sekali di ibukota negara ini. Bahkan menurut saya sudah terlalu liberal !  Saya dan tim waktu itu cuma geleng kepala sambil melongo melihat fenomena ini !

DSC_0785

Ketujuh, acara jamuan makan malam bersama dengan alumni ITS yang ada di Malaysia. Alhamdulillah, setelah cukup puas jalan – jalan langsung diajak makan – makan sepuasnya. Benar – benar nikmat dan mantab. Pembicaraan ngalor – ngidul mulai dari masalah politik, energi, kehidupan kampus bahkan masalah yang cukup sensitif di ITS yaitu pengkaderan !

DSC_0738

Kedelapan, ini pengalaman penutup sebelum pulang ke tanah air. Kami sempat diundang ke Universiti Islam Antar Bangsa Malaysia. Disana kami diajak berkeliling di fakultas teknik yang ada disana. Tak disangka, walaupun ada nama “Islam” disematkan pada nama universitas ini, namun ada fakultas teknik dengan peralatan yang sangat memadai. Bahkan, bukan maksud saya melebihkan Malaysia dan menjelekkan Indonesia, nyatanya fasilitas penelitian dan workshop yang ada disini sangat lengkap bahkan mungkin ITS dan ITB pun kalah. Bagaimana tidak, kami melihat langsung sebuah medium scale low speed wind tunnel. Itu tuh yang biasa digunakan untuk pengujian eksperimental karakteristik aliran fluida (udara) yang melalui sekitar benda tertentu. Wind tunnel ini bahkan dapat kami masuki dalamnya dan konon harganya RM 3.000.000 ! JOKOWOW !! Industri nasional juga tampaknya sangat mendukung sekali edukasi (contoh yang saya lihat di sini adalah teknik mesin). Beberapa mobil Proton dan PERODUA dihibahkan untuk penelitian dan pembelajaran disini. Ada yang utuh ada juga yang sudah “dipotong” agar kita bisa tahu jeroan dalamnya. Bicara tentang penelitian, salah seorang dosen disini yang juga menjadi pemandu kami (beliau ini orang Indonesia tetapi jadi dosen di sini. Kalo gak salah pernah mengajar di ITB) mengatakan bahwa dana penelitian disini relatif lebih mudah didapatkan dibanding di tanah air. Bahkan nominalnya pun juga besar. Ini membuktikan bahwa pemerintah Malaysia sudah mulai memperhatikan masalah penting ini yaitu edukasi. Mudah – mudahan pemerintah kita dari tahun ke tahun semakin memperhatikan masalah krusial  ini. Soalnya ini masalah mempersiapkan pendidikan generasi muda yang kelak akan memimpin tanah air tercinta.  Aaamin !!

DSC_0788

universiti2

600589_414092418637440_2007930712_n

532538_414092801970735_582645524_n

431974_414093518637330_311075008_n

483321_414094131970602_400259350_n

Itulah dia sekelumit cerita dan pengalaman gue. Kalo loe…??

Ahmad Fathonah

————————-mechanicalengboy.wordpress.com————————

Ayo teman - teman. Monggo dikeluarkan unek2nya !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: