Leave a comment

Asy-Syaikh Al-Albani (Pakar Ilmu Hadits Abad Ini – PART 2)


Bismillah….

Penghujung Hidup Beliau

Di akhir – akhir masa usianya, beliau mengalami sakit keras dan sempat beberapa kali keluar  masuk rumah sakit. Sesekali beliau keluar dari rumah sakit dalam kondisi tampak sehat. Namun, apabila Allah ‘Azza wa Jalla menetapkan sesuatu maka Dia tentu akan menyiapkan sebab – sebabnya. Pada sakit akhirnya, beliau pun dimasukkan ke rumah sakit di negeri ketiganya, Yordania, untuk menjalani perawatan. Namun, semua itu hanya sebuah upaya, yang tidak mungkin mengubah takdir, apabila Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan.

Pada hari Sabtu 22 Jumadil Akhir 1420 H yang bertepatan dengan 2 Oktober 1999 M beberapa saat sebelum maghrib, Allah ‘Azza wa Jalla mengambil titipan-Nya. Matahari itu kini tenggelam. Jangan engkau kira hanya jasad yang engkau kubur, bahkan ilmu yang luas engkau kuburkan.

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi dengan wafatnya para ulama.” (Muttafaqun ‘alaih)

Al-Albani, semoga Allah subhanahu wata’ala merahmatimu dan membalasimu dengan sebaik – baik balasan atas jasamu, serta menempatkanmu di rumah kemuliaan-Nya yang luas.

Yaa Allah, berikan kami pahala atas musibah yang menimpa kami dan berikan kepada kami pengganti yang lebih baik darinya.

Sungguh, air mata berlinang dan sungguh kalbu benar – benar sedih, namun kami tidak mengatakan melainkan pa yang membuat ridha Rabb kami. Kami benar – benar sedih dengan perpisahan denganmu, wahai Al-Albani….

Sesegera mungkin jenazah beliau dipersiapkan sesuai wasiatnya, tanpa memberikan pemberitahuan selain hanya kepada orang – orang tertentu yang menyiapkan jenazahnya. Namun, telah sekitar lima ribu orang yang mensholati beliau dan mengiringi jenazahnya karena begitu cepatnya berita menyebar. Hal ini mengingatkan kita kepada ucapan al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah,

“Katakan kepada ahli bid’ah, ‘(Bukti)) antara kami dan kalian adalah saat hari jenazah.’”

Beliau pun dishalati dengan sembilan takbir, sebagaimana salah satu tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sholat jenazah.

Diatas pundak – pundak kemudian jenazahnya dipikul menuju makam.

Sebelum meninggal, beliau telah menuliskan wasiat. Berikut ini wasiat tersebut.

Bismillahirrahmanirrahim..

Aku wasiatkan kepada istriku, anak – anakku, sahabat – sahabatku dan semua yang mencintaiku, apabila telah sampai kepadanya berita kematianku, hendaknya mendo’akan agar aku diampuni dan diberi rahmat-Nya. Ini yang pertama. DI samping itu, hendaknya mereka tidak menangisi aku dengan tangisan ratapan dan suara yang keras.

Kedua, hendaknya mereka menyegerakan pemakamanku dan tidak memberitakan kematianku kepada kerabat – kerabat dab saudara – saudaraku selain sebatas untuk melaksanakan kewajiban menyiapkan jenazahku. Selain itu, hendaknya yang memandikan aku adalah Izzat Khidir Abu ‘Abdillah, tetanggaku dan temanku yang tulus, serta yang dia pilih untuk membantu pelaksanaannya.

Ketiga, aku memilih untuk dimakamkan di tempat terdekat agar tidak perlu bagi yang membawa jenazahku untuk meletakkannya di mobil, lalu yang mengiringinya pun menaiki mobil. Hendaknya pula pekuburan itu adalah pekuburan lama yang besar kemungkinan tidak akan dipugar.

Bagi orang – orang yang berada di daerah tempat aku wafat, hendaknya mereka tidak mengabarkan kepada anak – anakku yang di luar daerah, apalagi kepada yang lain, selain setelah jenazahku dipikul, agar perasaan tidak menguasai dan berbuat terhadap mereka sehingga menjadi sebab ditundanya jenazahku.

(Aku tulis wasiat ini) dengan memohon kepada Allah subhanahu wata’ala untuk berjumpa dengannya dalam keadaan Dia telah mengampuni dosaku, apa yang telah lalu dan yang terjadi belakangan.

Kemudian aku wasiatkan agar perpustakaanku semuanya, baik buku yang tercetak maupun fotokopian, atau manuskrip tulisanku atau tulisan orang lain, untuk disumbangkan kepada perpustakaan Universitas Islam di al-Madinah al-Munawwarah.

Hal ini karena aku memiliki kenangan – kenangan indah disana dalam berdakwah kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman manhaj as-salafush shalih saat aku menjadi dosen disana.

(Hal ini) diiringi harapan agar Allah subhanahu wata’ala memberi manfaat dengannya kepada para pengunjungnya, sebagaimana memberikan manfaat dengan pemilik kitab – kitab tersebut kepada mahasiswa – mahasiswanya ketika itu.

Di samping itu agar Allah subhanahu wata’ala memberikan manfaat kepadaku karena keikhlasan mereka dalam mendo’akan aku.

27 Jumadil Ula 1410 H

Ditulis oleh yang sangat membutuhkan rahmat Rabb-Nya

Muhammad Nashiruddin Al-Albani

 al-albani (part2)

 

Hasil Karyanya

“Apabila jiwa – jiwa itu besar, niscaya jasmani – jasmani pun letih saat mengikuti kemauannya.”

Itulah yang terjadi pada beliau. Beliau telah letihkan tubuhnya demi mengikuti kemauan jiwanya. Namun itu semua bukan dalam hal hampa atau sia – sia. Buktinya, lihatlah hasil kerja kerasnya. Tercatat kurang lebih dua ratus karya mulai ukuran satu jilid kecil, besar, hingga yang berjilid – jilid, baik dalam bentuk karya tulis pena beliau, takhrij (koreksi hadits) pada karya orang lain, buku khusus takhrij hadits, maupun tahqiq, yaitu penelitian atas kitab tertentu dari segala sisinya, lalu dituangkan dalam catatan kaki pada kitab tersebut. Sebagiannya telah lengkap, namun sebagian yang lain belum sempurna.

Diantara yang paling populer adalah :

1. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syai’un min Fiqhiha wa Fawaidhiha, sampai jilid 9. Karya ini berisi studi ilmiah terhadap hadits – hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dinyatakan shahih, melalui ilmu musthalah hadits. Berdasarkan penomoran terakhir dari kitab itu, jumlah hadits yang tertera adalah 4.035 buah.

2. Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayyi’ alal Ummah, sampai jilid 14. Karya ini berisikan studi ilmiah atas hadits – hadits untuk dinyatakan lemah atau palsu (maudhu’). Rata – rata setiap jilid berisi lima ratus hadits.

3. Irwa’ul Ghalil (8 jilid). Kitab ini berisikan takhrij (studi ilmiah) atas hadits –hadits dalam kitab Manarus Sabil. Berdasarkan penomoran terakhir di jilid terakhir, jumlah haditsnya sebanyak 2.707 buah.

4. Shahih & Dha’if Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatihi. Keduanya berisikan hadits – hadits yang dikumpulkan oleh as-Suyuthi lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih atau dha’if. Yang shahih berjumlah 8.202 hadits dan yang tidak shahih berjumlah 6.452 hadits.

5. Shahih Sunan Abi Dawud dan Dha’if Sunan Abi Dawud. Keduanya berisikan hadits –hadits yang dikumpulkan oleh Imam Abu Dawud lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih, dha’if, atau yang lain, dengan jumlah hadits sebanyak 5.274 buah.

6. Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Dha’if Sunan at-Tirmidzi. Keduanya berisikan hadits – hadits yang dikumpulkan oleh Imam at-Tirmidzi lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai apakah shahih, dha’if atau yang lain, dengan jumlah hadits mencapai 3.956 buah.

7. Shahih Sunan an-Nasa’i dan Dha’if Sunan an-Nasa’i. Keduanya berisikan hadits – hadits yang dikumpulkan oleh Imam an-Nasa’i, lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih, dha’if, atau yang lain, sebanyak 5.774 hadits.

8. Shahih Sunan Ibnu Majah dan Dha’if Sunan Ibnu Majah. Kedua kitab ini berisikan hadits – hadits yang dikumpulkan oleh Ibnu Majah lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai apakah shahih atau dha’if, jumlah haditsnya sebanyak 4.341 buah.

9. Ahkamul Janaiz wa Bida’uha. Kitab ini membahas bagaimana kewajiban – kewajiban bagi orang yang sakit, anjuran mentalqin orang yang akan meninggal serta tuntunan seputar pengurusan jenazah dan ziarah kubur.

Bayangkan, dari kitab ini saja, sudah berapa puluh ribu hadits yang beliau kaji secara ilmiah. Belum lagi buku – buku yang lain.  Semuanya itu beliau lakukan dalam kurun waktu sekitar 65 tahun sejak usianya usia 20-an tahun hingga akhir hayatnya. Sungguh umur yang berkah.

Semua ini sebagai realisasi proyek beliau yang besar, yang beliau sebut “Taqribus Sunnah Baina Yadatil Ummah” (Mendekatkan Sunnah ke Hadapan Ummat). Tujuannya adalah memudahkan ummat secara umum untuk mengambil hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih secara instan, tanpa kepayahan untuk mempelajarinya dahulu.

Semoga Allah subhanahu wata’ala membalasi jerih payahnya, niatan tulus dari seorang yang mencintai sunnah. Sungguh, kemudahan itu betul – betul dirasakan oleh para penuntut ilmu, bahkan ulama dan bahkan musuh dakwahnya sekalipun yang mengambil faidah dari takhrij (studi hadits) beliau.

 

Pujian Ulama terhadap Beliau

1. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada penghujung tiap seratus tahun seseorang yang memperbaharui untuk umat ini agamanya.” (Shahih, H.R. Abu Dawud dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

Beliau ditanya, “Siapakah pembaharu pada abad ini ?” Beliau menjawab, “Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliaulah pembaharu tersebut menurut keyakinanku. Wallahu a’lam.”

2. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Yang saya ketahui tentang syaikh (al-Albani), dari sela – sela pertemuanku dengannya yang sedikit, beliau sangat bersemangat dalam mengamalkan sunnah dan memerangi bid’ah, baik dalam hal akidah maupun amal. Adapun dari sela – sela bacaanku pada karya – karyanya, aku telah mengetahui hal itu dari beliau. Beliau memiliki ilmu yang luas dalam bidang hadits, baik secara riwayat maupun dirayat (fikihnya). Selain itu, Allah subhanahu wata’ala telah memberikan  manfaat kepada banyak manusia dengan tulisan beliau, dari sisi ilmu, manhaj, dan kecondongan kepada ilmu hadits. Hal ini tentu merupakan buah yang besar bagi kaum muslimin. Milik Allah subhanahu wata’ala-lah segala pujian. Adapun dari sisi penelitian dan ketelitian ilmiah dalam bidang hadits, cukuplah engkau dengannya.”

3. Asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi

Asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi rahimahullah, penulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan, juga sangat menghargainya. Abdul Aziz al-Haddah mengatakan, “Sesungguhnya al-‘Allamah (yang sangat berilmu) asy-Syinqithi menghormati asy-Syaikh Al-Albani dengan penghormatan yang luar biasa. Sampai – sampai apabila beliau melihat asy-Syaikh Al-Albani lewat ketika beliau sedang mengajar di Masjid Nabawi beliau memutus pelajarannya, lalu berdiri dan memberinya salam dalam rangka menghargainya.”

4. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah mengatakan, “Yang saya yakini bahwa asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, semoga Allah subhanahu wata’ala menjaganya, tergolong pembaharu, yang tepat baginya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,”

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada penghujung tiap seratus tahun seseorang yang memperbaharui untuk umat ini agamanya.” (Shahih, H.R. Abu Dawud dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

-Selesai, walhamdulillah

(Ahmad Fathonah)

————————-mechanicalengboy.wordpress.com————————

Sumber :

Majalah Asy Syariah Vol. VII/No. 77/1432 H/2011

Ayo teman - teman. Monggo dikeluarkan unek2nya !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: