3 Comments

Asy-Syaikh Al-Albani (Pakar Ilmu Hadits Abad Ini – PART 1)


Bismillah….

Orangnya sangat berwibawa, namun begitu dekat dengan orang lain. Kecakapannya dalam berbicara membuat orang tak bosan bermajelis dengannya. Posturnya tinggi, gagah, bertopikan kopiah, dadanya bidang. Warna kulitnya putih kemerahan, layaknya orang – orang Eropa. Jenggot putih menghiasi penampilannya, apalagi saat dipoles dengan semir berwarna merah kecoklatan, semakin menambah ketampanannya. Langkah kakinya lebar, selaras dengan tubuhnya yang besar. Tak mudah seseorang mengimbanginya, walau ia telah berusia senja.

Dialah asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani bin Nuh Najati, berkuniah dengan Abu Abdirrahman. Al-Albani adalah nisbat kepada negeri asalnya, Albania.

Beliau dilahirkan di kota Ashqadar, ibu kota Albania pada waktu itu, pada tahun 1333 H atau 1914 M. Neliau tinggal di kota tersebut selama kurang lebih sembilan tahun. Ayah beliau seorang ulama di negeri tersebut, ahli fikih madzhab Hanafi, yang dahulunya belajar ilmu syar’i di Istanbul, Turki.

Saat komunis menguasai daerah tersebut dibawah kepemimpinan Ahmet Zogu, sang ayah mengajak keluarganya untuk berhijrah, demi keselamatan agama mereka, yaitu saat sang pemimpin mulai menerapkan pola hidup ala Barat, serta menebarkan kerusakan modal dan pemahaman sesat. Bahkan, dia berangsur – angsur mengebiri syariat Islam, sampai pada tingkatan mengganti lafadz adzan dengan bahasa Albania.

Damaskus, ibu kota Syria yang dimasa dahulu masuk wilayah Syam menjadi tujuan ayahnya. Daerah tersebut menjadi pilhan ayahnya karena dahulu nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut – nyebut keutamaan negeri Syam.

Al-Albani kecil mulai tumbuh besar, memulai lembaran barunya bersama keluarga di negeri keduanya. Ayahnya memasukkannya di madrasah al-Is’af al-Khairiyah al-Ibtidaiyah yang setingkat sekolah dasar di Damaskus, lalu ayahnya memindahkannya ke madrasah lain. Di situlah ia menyelesaikan pendidikan tingkat dasarnya.

Ayahnya tidak memasukkan ke sekolah tingkat lanjutan karena beliau memandang bahwa sekolah akademik kurang memberikan manfaat yang besar, selain sekadar seorang belajar membaca dan menulis. Namun, bukan berarti ayahnya berhenti mendidiknya. Bahkan, hal itu demi program pendidikan pribadi yang lebih terarah. Ayahnya pun membuatkan untuknya kurikulum yang lebih fokus. Melalui kurikulum tersebut, beliau belajar al-Qur’an dan tajwidnya, ilmu sharaf, dan fikih melalui madzhab Hanafi karena ayahnya termasuk ulama madzhab tersebut. Selain belajar kepada ayahnya sendiri, tak lupa beliau belajar kepada beberapa syaikh dan ulama teman – teman ayahnya.

Kecerdasan begitu tampak dalam proses belajarnya. Semasa ibitidaiyah, tak jarang gurunya menjadikannya sasaran terakhir sebuah pertanyaan di saat murid – murid lain tidak mampu menjawab. Membaca adalah hobi yang sangat digandrunginya sejak masa kecil. Waktu – waktu luang tidak beliau biarkan berlalu sia – sia tanpa membaca. Sampai suatu saat beliau berkata mengenang masa kecilnya, “Di awal usiaku, aku membaca sesuatu yang dapat dibaca dan yang tak dapat dibaca.” Dua modal pokok ini, kecerdasan dan hobi membaca, terus menyertainya hingga akhir hayatnya.

Proses belajar terus dijalaninya. Seiring dengan usianya yang semakin dewasa, tak lupa ayahnya membekalinya keahlian dalam hal pekerjaan untuk menjadi modal maisyah (penghidupan) baginya kelak. Tukang kayu, itulah profesi awalnya. Namun, berjalan sekian waktu, pekerjaan tersebut tidak begitu menjanjikan baginya. Akhirnya, ayahnya menawarinya untuk mengikuti profesi sang ayah, menjadi tukang reparasi jam. Ilmu sang ayah dalam profesi ini dia warisi hingga akhirnya beliau sangat mahir dalam keahlian ini. Beliau lantas membuka sendiri toko untuk reparasi jam. Julukan tukang jam atau as-sa’ati pun tersematkan pada beliau saat itu.

 

Menuju Ilmu Hadits

Pada umur sekitar dua puluh tahun, suatu hari pandangan beliau tertuju pada sebuah majalah bernama al-Manar terbitan Muhammad Rasyid Ridha [1] di salah satu toko. Dibukanya lembaran demi lembaran najalah tersebut. Terhentilah beliau pada makalah Muhammad Rasyid Ridha yang melakukan studi kritik terhadap kitab Ihya’ Ulumuddin dan hadits – haditsnya. “Pertama kali aku dapati kritik ilmiah semacam ini,” ujar beliau.

Hal yang membuatnya penasaran untuk merujuk langsung ke kitab yang khusus membahas hadits – hadits dalam kitab Ihya’, yaitu kitab al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, karya al-Iraqi. Namun, kondisi ekonomi tak mendukung beliau membeli kitab tersebut. Menyewa kitab, itulah alternatifnya. itab yang sekarang tercetak dalam tiga jilid itu pun beliau salin dengan goresan tintanya yang indah dan rapi, dari awal hingga akhir. Itulah karya hadits pertama beliau, sebuah salinan kitab. Tentu proses pembacaan dan penyalinan membekas dalam dada beliau, yang artinya semakin memperlebar wawasan agamanya, sekaligus ilmu hadits menjadi daya tarik baru baginya.

Ilmu hadits begitu luar biasa memikatnya. Akhirnya, wawasan hukum ala madzhab Hanafi pun semakin memudar saat ia dapati sebagiannya tidak sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bermodal hadits – hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (dan itulah modal terbaik), beliau membuka dialog dengan sang ayah pada masalah – masalah yang madzhab Hanafi menyalahinya. Tentunya tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada sang ayah. Penampilan ittiba’ (selalu mengikuti) hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak fanatik terhadap golongan tertentu semakin tampak menjadi ciri khas beliau, sejalan dengan semakin dalamnya menyelami lautan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semakin gandrung dan terpikat dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tampaknya itulah kata yang tepat untuk beliau. Bagaimana tidak, tempat reparasi jamnya telah berubah menjadi tempat perkumpulan para penuntut ilmu, saat beliau mulai dikenal umat. Bagian belakang toko itu pun berubah menjadi perpustakaan pribadinya. Bahkan, beliau merelakan mengorbankan waktu kerjanya demi ilmu.

Beliau bercerita, “Di antara taufik Allah subhanahu wata’ala dan karunia-Nya kepadaku adalah ketika Allah subhanahu wata’ala mengarahkan aku sejak awal masa mudaku pada keahlian reparasi jam. Itu adalah profesi lepas yang tidak mengikat, tidak berbenturan dengan upayaku mempelajari hadits – hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kuberikan waktu untuk pekerjaan tersebut tiga jam setiap hari selain hari Rabu dan Jum’at. Dengan waktu tersebut, cukup bagiku untuk mendapatkan maisyah pokok untukku dan keluargaku pada kadar secukupnya.”

Waktu selebihnya beliau gunakan untuk hidup diantara buku – buku dalam perpustakaannya, membaca dan mempelajarinya. Umumnya, delapan belas jam per hari beliau gunakan untuk membaca dan menelaah. Untuk di perpustakaan besar azh-Zhahiriyyah Damaskus saja, beliau alokasikan waktu 6-8 jam per harinya. Subhanallah, keuletan yang sangat langka. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmatinya beliau.

Melihat kesungguhan beliau yang luar biasa, seorang sejarawan sekaligus pakar hadits di kota Halab, Syria, yaitu asy-Syaikh Muhammad ath-Thabbakh, memberinya ijazah hadits dengan sanad – sanad yang melalui beliau.

Semakin dalam, semakin ahli dalam bidang hadits, hingga ribuan hadits beliau pelajari dengan studi ilmiah yang penuh kejelian dan ketelitian. Karya – karya beliau yang jumlahnya lebih dari dua ratus karya, baik yang kecil maupun yang besar, dan berjilid – jilid, baik yang sudah lengkap maupun yang belum lengkap menjadi bukti. Pantaslah apabila kemudian asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dengan benar mengatakan, “Tak pernah kuketahui di bawah kolong langit ini seorang yang berilmu di masa ini dalam bidang hadits seperti asy-Syaikh Al-Albani.”

 

Ibadah dan Sikap Tawadhu’ Beliau

“Ilmu berkonsekuensi amal. Apabila tidak, ilmu akan menjadi benca bagi pemiliknya,” demikian ungkap beliau. Sebuah ungkapan yang menjadi pedomannya dalam mengarungi kehidupan ilmiah ini. Karena itu, beliau bukan sosok alim yang hanya bisa bicara dan menulis tanpa terlihat bekas ucapan dan tulisannya dalam kepribadiannya. Bahkan, beramal dan beribadah senantiasa menghiasinya dalam aktivitas kesehariannya, sikap tawadhu’ ini pun menambahnya semakin indah dipandang mata.

Puasa Senin dan Kamis, hampir – hampir tak pernah terlewatkan baik di musim panas maupun dingin, kecuali saat beliau safar atau sakit. Di hari jum’at, sambil menunggu khatib datang, shalat sunnah mutlak, dua rakaat dua rakaat, senantiasa beliau lakukan. Tiap tahun beliau tak pernah ketinggalan berhaji. Beliau berhaji hingga tiga puluh kali, yang terakhir pada tahun 1410 H. Umrahnya juga demikian, bahkan terkadang dua kali dalam setahun.

Tak jarang beliau menangis, lebih – lebih dalam kondisi – kondisi yang menyentuh kalbunya. Sekian kali beliau menangis saat menyampaikan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang pertama kali dibakar dalam api neraka adalah seorang yang berilmu tetapi tidak ikhlas (dalam menyampaikan ilmunya),” sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan yang lain.

Suatu saat beliau duduk dalam mobilnya. Tiba – tiba seseorang datang menghampirinya sambil mengatakan, ”Apakah benar Anda asy-Syaikh al-Albani ?”

Beliau justru menangis, saat ditanya sebab tangisannya, beliau menjawab, ”Semestinya setiap orang melawan dirinya dan tidak terlena (berbangga diri) dengan isyarat tangan manusia kepadanya.”

Saat beliau sakit, salah seorang muridnya dahulu menjenguknya dan mengucapkan kalimat penghibur, “Orang yang besar ujiannya tidak akan ringan. Orang besar ujiannya seukuran dengan kebesarannya. Engkau, wahai guru kami, adalah orang yang besar. Allah ‘Azza wa Jalla telah membesarkanmu dengan ilmu dan fikih yang Dia berikan kepadamu. Oleh karena itu, ujianmu seukuran dengan kebesaran yang disandangkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepadamu dan seukuran dengan ilmu yang Dia berikan kepadamu.”

Mendengar kata itu, beliau tersenyum,namun diiringi aliran butiran – butiran air mata di pipinya. Beliau lalu mengatakan, “Yaa Allah, ampunilah aku dalam hal – hal yang tidak mereka ketahui. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka. Janganlah Engkau menghukumku dengan sebab apa yang mereka ucapkan.”

Kata yang senantiasa beliau ucapkan saat mendengar pujian untuknya, mengikuti pendahulunya, Abu Bakr ash-Shiddiq. Betapa tawadhu beliau. Tak jarang beliau menyifati dirinya, “Saya hanya seorang penuntut ilmu yang masih kecil.” Semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmatinya.

 

Gemar Beramar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

“Berulang – ulang ayat yang mulia dalam kalamullah memerintahkan agar ada sebuah umat dan sekelompok manusia yang melakukan kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ini adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat tentangnya diantara kaum muslimin,” demikian beliau mengungkapkan keyakinannya.

Menjadi ciri khas beliau, suka mengajak kepada yang baik dan mencegah perbuatan yang jelek. Siapa pun yang mendengar kaset – kaset beliau, membaca bukunya, apalagi yang diberi keutamaan bisa berkumpul bersama beliau, akan melihat secara nyata ciri khas ini.

Terdengar dari kaset rekaman beliau, saat beliau hendak berceramah, terlihat para hadirin tidak duduk merapat, namun berpencar – pencar. Beliau pun mengingatkan mereka dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Mengapa kulihat kalian berpencar – pencar ?” (Shahih, H.R. Muslim)

Beberapa menit beliau menerangkan sunnah merapatkan tempat duduk dalam majelis. Setelahnya, barulah beliau memulai apa yang hendak beliau sampaikan.

Tak heran apabila ini menjadi ciri khasnya. Saat sakit pun beliau masih sempat melakukannya. Waktu itu, seorang dokter atau perawat masuk untuk mengobatinya. Tampaknya dokter tersebut dengan keawamannya tidak memelihara jenggotnya. Namun, tabiat baik dirinya tampak pada penghormatannya terhadap asy-Syaikh. Selepas mengobati, dia berkata, “Wahai Syaikh, tolong do’akan saya.”

Beliau mendo’akannya, ”Semoga Allah memperindah dirimu dengan apa yang Allah memperindah kaum lelaki dengannya (yakni jenggot).”

Sebuah catatan dari beliau dalam medan amar ma’ruf nahi mungkar, “Tidaklah perintah kepada kebaikan menjadi baik kecuali jika kemaslahatan yang timbul darinya lebih dominan dari mafsadah yang ditimbulkannya.”

Oleh karena itu, kami katakan, tidak sepantasnya bagi individu atau kelompok melakukan perbuatan/gerakan yang termasuk dalam kategori amar ma’ruf nahi mungkar tanpa memerhatikan kaidah tersebut. Tidak sepantasnya pula bagi individu atau kelompok untuk melakukan perubahan apabila hal itu mengakibatkan kerusakan yang lebih dominan dari maslahat yang diharapkan. Oleh karena itu, kami senantiasa mengulang – ulang dan menasehati mereka di setiap negeri agar menelusuri sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal perbaikan, yang beliau tidak memulai dakwah kepada Islam, iman dan tauhid dengan kekerasan, tetapi dengan ucapan, hujjah dan keterangan.”

 

Kedermawanan

Tak sedikit kisah kedermawanannya. Sampai – sampai salah seorang dekat beliau, Muhammad al-Khatib, mengatakan, “Betapa banyak saya menganjurkan syaikh untuk membangun masjid, memberi orang fakir, janda, atau pengemis dan beliau tidak pernah menolaknya.”

Muhammad al-Khatib menceritakan beberapa kisah. Salah satunya, ada seseorang yang sakit datang kepada beliau dan membutuhkan pengobatan dengan suntik. Satu kali suntikan biayanya dua puluh dinar, sementara itu di membutuhkan lima belas suntikan. Syaikh lalu meminta aku pergi ke rumahnya untuk mengecek kebenaran kondisinya. Ketika kami tahu kebenaran ucapannya, beliau memberikan biayanya. Kami pun membelikan suntikan untuknya.

-Bersambung, InsyaAllah

(Ahmad Fathonah)

————————-mechanicalengboy.wordpress.com————————

Sumber :

Majalah Asy Syariah Vol. VII/No. 77/1432 H/2011

3 comments on “Asy-Syaikh Al-Albani (Pakar Ilmu Hadits Abad Ini – PART 1)

  1. Semoga bisa mengikuti jejak beliau rahimahullah!🙂

  2. Kelihatannya tdk jelas sanad mata rantai beliau belajar..hanya belajar sendiri melalui buku yg ada diperpustakaan..hingga khawatir..hanya berdasar hawa nafsu men sahihkan hadis yg sudah di sahihkan ulama hadis bidangnya….jd td mutlak hadis yg di sahihkan beliau jd hujjah..

Ayo teman - teman. Monggo dikeluarkan unek2nya !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: