Leave a comment

Al-Biruni – Menundukkan Sains dengan Kearifan


Al – Biruni adalah salah seorang cendikiawan dan saintis Muslim terkemuka pada masa kejayaan Islam. Kepakarannya di bidang matematika, fisika, kedokteran, astronomi dan sejarah sangat luar biasa. Karangannya mencapai 180 buah. Namun, hanya sekitar 40 buah yang dapat diketahui keberadaanya hingga sekarang.

Sejarawan D. J. Boilot menilai al-Biruni sebagai ilmuwan Muslim terbesar abad pertengahan yang paling orisinal dan mengagumkan. Tidak heran kalau nama al-Biruni mendapat tempat terhormar dalam perkembangan sains modern.

Penjelajah yang Selalu Menulis

Nama lengkapnya adalah Abu al-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni. Ia dilahirkan di Khawarizmi, Asia Tengah, 4 september 973 M atau 3 Dzulhijjah 362 H dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan yang kokoh. Selama 25 tahun kehidupannya, dihabiskannya di kota kelahirannya. Disini ia sempat belajar matematika pada Abu Nasr Mansur al-Jilani.

Pada 998 M/388 H ia merantau ke Jurjan, daerah sebelah tenggara di Laut Kaspia. Disini ia pertama kali menulis kitab al-Atsarul Baqiyah ‘anil Qurunil Khaliyah (Peninggalan Bangsa – Bangsa Kuno). Dalam buku ini al-Biruni berbicara tentang upacara – upacara ritual, pesta dan festival bangsa – bangsa kuno. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman (1878 M) dan Inggris (1879 M) oleh Edward C. Sachau. Dialah orang yang berjasa memperkenalkan al-Biruni ke Dunia Barat.

Pada tahun 1008 M/399 H, ie kembali ke kampung halamannya. Disini ia bekerja pada saudara Sultan Abul Hasan Ali ibnu Makmun yang bernama Khawarizmsyah. Namun pada 1017 M/408 H tentara kerajaan melakukan kudeta, sehingga Khawarizmsyah tewas. Dalam kondisi kacau tersebut, Mahmud Ghana dari Pakistan menguasai kota Khawarizmi. Melihat kecemerlangan al-Biruni, Mahmud Ghana mengajak al-Biruni bekerja padanya. Al – Biruni selalu ikut dalam ekspedisi militer Mahmud. Diantaranya ke India. Kesempatan ini digunakan al-Biruni untuk mempelajari adat – istiadat, agama dan kepercayaan India. Ia bahkan belajar filsafat Hindu pada sarjana India. Penyelidikan al-Biruni menghasilkan karya berjudul Tarikhul Hindi (Sejarah India) pada 1030 M/421 H. Sachau pun menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa inggris pada 1888 M. Menurut Syed Hossein Nasr, dalam Science and Civilization in Islam (1968 M), buku ini merupakan uraian paling lengkap dan terbaik mengenai Hindu, sains dan adat – istiadat India.

Dalam buku ini al-Biruni juga menyimpulkan bahwa pada mulanya manusia memiliki kepercayaan monoteisme/tauhid murni, penuh kebaikan dan menyembah hanya pada Tuhan Yang Maha Esa (Allah ‘Azza wa Jalla). Namun, nafsu jahat telah membawa mereka pada perbedaan agama, filsafat dan politik sehingga mereka menyimpang dari ajaran tauhid tersebut. Ia juga membahas tentang geografi India. Menurutnya, lembah Sungai Hindus dan India pada umumnya, awalnya terbenam dalam laut dan kemudian secara bertahap menjadi penuh endapan yang dibawa air sungai (alluvium).

Beberapa tahun kemudian, al-Biruni menulis buku tentang masalah – masalah geometri, aritmetika, astronomi dan astrologi berjudul Tafhim li Awa’il Sina’atut Tanjim. Selain itu, khusus di bidang astronomi, ia menulis al-Qanun al Mas’udi fii al Ha’iah wa an-Nujum. Buku ini juga memperoleh penghargaan di Barat selama beberapa abad. Sementara dalam bidang pertambangan ia menulis as-Saydala fit Thib. Buku ini bisa dibilang ensiklopedi kedokteran lengkap yang merangkum informasi tentang kedokteran dan pengobatan pada masanya.

Al-Biruni juga pembuat instrumen yang kompeten. Dia membuat sebuah astrolab yang dapat menentukan waktu terbit dan terbenam matahari dan bintang serta menemukan posisi benda – benda langit pada saat tertentu. Selain itu, ia juga membuat kalender mekanik yang dapat menunjukkan posisi matahari dan bulan pada hari – hari tertentu.

Al-Biruni juga menguasai berbagai bahasa secara aktif seperti bahasa Arab, Turki, Sanskerta, Ibrani dan Suryani. Pada tahun 1050 M/442 H al-Biruni meninggal dunia dalam usia 77 tahun (masehi) atau 80 tahun dalam hitungan tahun hijriyah.

Memadukan Sains dalam Keilmuan  

Sebagai ilmuwan dan saintis muslim, al-Biruni selalu meletakkan sains sebagai sarana utnuk mengungkap rahasia alam. Hasil eksperimen dan penelitiannya selalu bermuara pada pengakuan akan keberadaan Rabbul ‘Alamin, Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika seorang ilmuwan seorang ilmuwan, kata beliau, akan memutuskan untuk membedakan kebenaran dan kepalsuan, dia harus menyelidiki dan mempelajari alam. Kalau pun ia tidak membutuhkan hal ini, maka ia perlu berpikir tentang hukum alam yang mengatur cara – cara kerja alam semesta. Ini akan dapat mengarahkannya untuk mengetahui kebenaran dan membuka jalan baginya untuk mengetahui Sang Pencipta.

Dalam bukunya al-Jamahir, al-Biruni juga menegaskan, “Penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda – tanda kebijaksanaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dari penciptaan alam tersebut kita menyimpulkan eksistensi Allah.”

Prinsip ini dipegang teguh dalam setiap penyelidikannya. Meskipun al-Biruni bekerja dengen menggunakan metode ilmiah seperti pengamatan, penelitian dan eksperimen, sebagai seorang Muslim sejati, ia tidak pernah memutlakkan metodologi dan hasil penelitiannya. Karenanya, ia sangat berhati – hati dan selalu menguji setiap kesimpulan yang dihasilkannya.

Dalam aktivitas ilmiahnya, al-Biruni mengukur keliling dan menetaokan garis lintang (latitude) dan bujur(longitude) dengan akurasi yang luar biasa, Ia juga menyatakan universalitas hukum alam. Namun begitu, al-Biruni menganggap bahwa hipotesa – hipotesa astronomi bersifat relatif. Meskipun telah menghasilkan 180 karya dalam berbagai disiplin ilmu, ia selalu mengingatkan bahwa metode ilmiah yang dikembangkannya memiliki keterbatasan. Wahyullah satu – satunya otoritas tertinggi yang mutlak. Karena itu, jika ia terbentur pada suatu masalah, ia pun segera mengembalikannya pada Allah. Disini al-Biruni berusaha menundukkan sains di bawah kerangka nilai – nilai Islam.

Kesadaran tentang keterbatasan metodologi ini selanjutnya mengantarkan al-Biruni pada kerendahhatian. Menurut Sachau, ia selalu mengutamakan ketulusan dalam setiap pekerjaannya dan tidak merasa malu mengakui kalau belum mengetahui tentang suatu persoalan ilmiah. Sachau menjelaskan mengenai kerendahan hati seorang al-Biruni, “Ia seorang hakim yang tegas terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain. Karena ia sendiri sangat tulus, ia pun menuntut ketulusan dari orang lain. Kalau ia tidak sepenuhnya memahami suatu persoalan atau hanya tahu sebagian saja, ia langsung menyatakannya dan berjanji akan terus berusaha menyempurnakan pengetahuannya.”

Sikap ini tentunya memperlihatkan kearifan dan kejujuran ilimiah al-Biruni yang patut diteladani. Meskipun telah mengarang sejumlah karya monumental, ia tidak serta – merta mengklaim dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling menguasai setiap persoalan keilmuan. Ilmu, menurut al-Biruni hanyalah kepunyaan Allah subhanahu wa ta’ala semata dan yang diberikan-Nya kepada manusia tidak lebih dari setetes air dibandingkan samudera yang luas. Manusia baru bisa menyingkap sebagian kecil saja dari tanda – tanda kekuasaan Allah. Karenanya, pengembangan ilmu pengetahuan dan sains harus memperhatikan nilai – nilai moral dan agama, sehingga mempau memberikan kesejahteraan kepada umat manusia secara menyeluruh. Dengan demikian manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Pandangan al-Biruni ini berbeda sekali dengan pandangan saintis Barat modern yang sekuler, yaitu melepaskan sains dari agama. Pandangan mereka tentang alam semesta berusaha menafikan keberadaan Allah sebagai pencipta. Konsekuensinya, mereka pun mengembangkan sains yang bebas nilai. Segala sesuatu yang mungkin dapat dikembangkan boleh dilakukan tanpa memandang nilai – nilai kemanusiaan, bertentangan dengan etika dan moralitas apalagi nilai – nilai ketuhanan.Akibatnya terjadilah bencana kemanusiaan yang mengorbankan manusia itu sendiri. Na’udzubillahi min dzalik…!! -selesai-

(Ahmad Fathonah)

————————-mechanicalengboy.wordpress.com————————

Sumber :

Ditulis ulang dengan sedikit perubahan dari Buku Berjudul “Khazanah Orang Besar Islam – Dari Penakluk Jerussalem Hingga Angka Nol” terbitan Penerbit Republika, 2002.

Ayo teman - teman. Monggo dikeluarkan unek2nya !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: