Leave a comment

Prof. Abdus Salam – Nobel Fisikanya Membuka Mata Dunia


Ia besar dalam dua kehidupan yang berbeda dan bertolak belakang. DI satu sisi, dia menjadi manusia yang sangat taat pada agama dan menemukan pembenaran di dalam Al-Qur’an yang senantiasa mengilhami dasar karya ilmiah beliau. Pada sisi lain, ia adalah seorang politisi yang menjunjung tinggi asas kemuliaan serta sama sekali tak merendahkan politisi yang mempraktekkan real politic untuk memperoleh kekuasaan.

Dialah Prof. Abdus Salam. Nama besarnya ikut mengangkat derajat Islam di mata dunia. Pria yang arif menjalani kehidupan itu pernah meraih penghargaan Nobel bidang fisika pada tahun 1979 M. Ia menyediakan tenaganya untuk memperbaiki kondisi kehidupan di Dunia Ketiga dengan menempatkan dirinya sebagai pejuang dalam hak – hak seluruh bangsa.

Pria ini dilahirkan di negara Islam Pakistan pada Januari 1926 M. Saat itu, Pakistan masih dalam cengkraman penjajah Inggris. Salam menyelesaikan pendidikan dasar hingga jenjang sarjana di dalam negeri. Pendidikan tingginya (master dan doktor) ia selesaikan di Inggris. Bahkan gelar doctor of philosophy (PhD) dalam bidang fisika teori diperolehnya dari laboratorium Cavendish, Universitas Cambridge, Inggris dalam usia yang sangat muda yaitu 26 tahun !

Prestasi – prestasi  besar yang beliau capai dalam disiplin ilmu fisika membuatnya banyak menerima penghargaan dari berbagai kalangan. Antara tahun 1957 – 1982 M saja, lebih dari 18 universitas dari berbagai negara maju silih berganti menganugerahinya gelar doctor of science honoris causa atas jasa – jasanya dalam dunia ilmu pengetahuan.

Ia bekerja sebagai guru besar (profesor) fisika teori di Imperial College, Universitas London sejak tahun 1957 M. Sejak 1964 M juga menjabat sebagai direktur International Centre for Theoritical Physics di Trieste. Karya – karya ilmiahnya yang telah diterbitkan berjumlah lebih dari 200 judul. Disamping menerima anugerah Nobel, ia juga mendapatkan penghargaan dan keanggotaan terhormat masyarakat akademis.

Dengan prestasi itu, ia kembali ke Lahore sebagai guru besar pada umur yang sangat muda, kurang dari 30 tahun. Selama tiga tahun mengabdi di Lahore, rupanya tidak membahagiakannya. Salam kehilangan kontak dengan sejawat ilmuwan dan peneliti dan aktivitasnya pun kurang produktif. Menurut beliau, inilah penyebab utama atmosfir dunia penelitian amat menyedihkan dan menggelayuti hampir seluruh negara berkembang. Mereka yang mendapat pendidikan di luar negeri, bila kembali ke negara asal menghadapi banyak kesulitan dan ketidaksesuaian untuk berkembang terus.

Ia merasa layaknya orang terisolasi. Pengisolasian dalam fisika teoritis ibarat sebuah kematian. Ini pula yang dihadapi Salam ketika berasosiasi dengan Universitas Lahore. Ia merasa tidak bisa “dikubur hidup – hidup” secara perlahan – lahan. Pada tahun 1954 M, ia kembali lagi ke Inggris sebagai lektor di Cambridge. Setelah merumuskan teori neutrino pada umur 31 tahun, Salam menjadi guru besar fisika teoritis selama 30 tahun (1957 – 1987 M) di London Imperial College untuk sains dan teknologi. Dengan usaha Salam, Imperial menjadi salah satu pusat terkemuka dalam teori fisika. Salam mendorong teoritisi di Imperial ke arah problema simetri dalam klasifikasi partikel dan teori grup dalam fisika partikel.

Meski berada di negeri orang dan tak pernah kembali menduduki jabatan akademis reguler di Pakistan, ia tak pernah kehilangan kontak pribadi dengan tanah airnya. Ia pun merasa bangga sebagai Muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel.

Salam adalah seorang yang berhati besar seperti pemikirannya. Ingatan terisolasi dari sumber informasi ilmiah, ia bertekad menyediakan sarana bagi ilmuwan muda yang berbakat dari negara kurang berkembang supaya mereka tidak mati dalam artian intelektual karena keterasingan dari sumber informasi ilmiah tanpa harus meninggalkan negerinya.

Salam merintis pendirian International Centre for Therotical Physics (ICTP) di Trieste, Italia sejak tahun 1964 M dan menjadi direktur ICTP (1964 – 1990) yang didanai oleh pemerintah Italia (50 %), PBB (Unesco – IAEA) dan SIDA (Swedish Agency for International Development). Fasilitas di Trieste pertama kali disediakan sepenuhnya oleh pemerintah Italia. Sikap ini seakan – akan membayar kembali sumbangan pemikiran ilmuwan Muslim yang merasuki Italia sejak jatuhnya kota Constatinopel pada 1453 M dari kekaisaran Romawi Timur, yang melahirkan Zaman Renaissance di Eropa.

Pemikiran dan Karya

                Sang jenius kaliber internasional ini, dalam upayanya mengungkap sesuatu dan menelorkan pemikirannya serta penelitiannya, selalu mendasarkan pada konsep – konsep Islam, terutama tentang kosmos. Salam menganut sistem integrasi 2 ilmu (ilmu agama dan ilmu pengetahuan). Karena itu, dia tidak percaya adanya konflik antara sains dengan Islam. Ia menegaskan bahwa dari tahun 750 – 1100 M hampir seluruh perkembangan sains adalah sumbangan Islam, yang menurut George Sarton (A History of Science) secara tak putus serta berturut – turut adalah zamannya Jabir, Khawarizmi, Haytham, Razi, Masudi, Wafa, Biruni, Ibnu Sina, Omar Khayyam dan lainnya.

Selain Salam, tokoh berpengaruh dalam bidang sains ialah Ishrat Usmani, ketua Komisi Tenaga Atom Pakistan. Menurut Usmani, “Kebanyakan usaha keilmiahan di Pakistan ditimbulkan oleh imajinasi Abdus Salam dan bobot pengaruh pribadinya. Abdus Salam adalah simbol kebanggaan dan gengsi bangsa Pakistan dalam dunia keilmiahan.”

Karena pengaruh besar Salam maka penghargaan berlebih – lebihan yang sebelumnya diberikan kepada seni dan ilmu – ilmu sosial dengan mengorbankan sains telah dipatahkan. Presiden Pakistan saat itu, Ayyub Khan pun membagi kegairahan perhatian Abdus Salam pada penerbitan buku – buku pelajaran sains. Akibatnya, bertambah banyaklah mahasiswa yang mengambil bidang studi sains di universitas.

Bagi Salam, ruang lingkup intelektual sains adalah memanunggalkan hukum – hukum alam yang terdiri dari prinsip / asas sederhana. Pencarian ini dimulai pada zaman Yunani Kuno dan dilanjutkan dalam Islam oleh al-Biruni (973 – 1050 M) yang menegaskan bahwa alam semesta memiliki hukum yang sama di mana saja, di bumi atau di bulan.

Dengan diwujudkannya pertemuan dua peradaban ini maka dimulailah sains modern dari Galileo ke Einstein. Salam telah memberikan sumbangan fundamental dengan teori electroweak, yaitu kemanunggalan gaya elektromagnetisme dengan gaya nuklir lemah yang dihargai oleh masyarakat sains dengan hadiah Nobel Fisika pada tahun 1979 M.

Ini prestasi terbesar umat Islam di bidang sains pada abad ke – 20. Tentu saja semua keberhasilan ini tidak datang dengan sendirinya. Selain keteguhan dan jihad sosialnya yang tinggi, hampir seluruh yang dikerjakan oleh Salam ialah kuatnya keterkaitan agama Islam, dijabarkan dari tanah airnya Pakistan. Dengan segala kerendahan hati beliay menyampaikan bahwa apa yang telah dicapainya berasal dari semangat warisan Islam.

Ia berkata, “Saya banyak melibatkan diri pada pemikiran kesimetrian alam, yang datang dari konsep Islam, karena dalam Islam kita merenungkan universum ciptaan Allah dengan keindahan dan kesimetrian serta keharmonisan dan diperoleh kepuasan dapat melihat sebagian kecil dari rahasia alam ini.” Berkat kejeniusannya tersebut, selain Nobel, puluhan penghargaan dan jabatan pernah ia peroleh dari berbagai universitas ternama dunia, baik yang ada di negara berkembang maupun negara maju.

Jasa Salam tak bisa terlupakan. Beliau telah meninggalkan warisan paling berharga (karya intelektual) bagi generasi penerus. Usaha kerasnya pun tak dapat ia teruskan, ketika penyakit stroke menyerang tubuh beliau. Sesudah tak sanggup lagi berkomunikasi selama tiga tahun hampir 3 tahun setelah terserang stroke tersebut, akhirnya nafas beliau terhenti pada 20 November 1996 M di Oxford, Inggris diiringi oleh doa Salam sendiri, jauh dari tanah air yang dicintainya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membalas segala amal kebajikan beliau dan menjadikan ilmu yang beliau warisi sebagai amal jariyah. Aaamiin. -selesai-

(Ahmad Fathonah)

————————-mechanicalengboy.wordpress.com————————

Sumber :

Ditulis ulang dengan sedikit perubahan dari Buku Berjudul “Khazanah Orang Besar Islam – Dari Penakluk Jerussalem Hingga Angka Nol” terbitan Penerbit Republika, 2002.

Ayo teman - teman. Monggo dikeluarkan unek2nya !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: