Leave a comment

Suasana Hari Raya Idul Adha di Kota London


-oleh dr. Yumna Supardi, Staf National Health Service di Royal London Hospital dan Pengajar Tajwid (Level I, II and 1st step to Qur’an) untuk akhwat (both born muslim and convert) di Tayyibun Institute, London-

Tahun ini (tahun 2008) adalah tahun kelima saya merayakan Idul Adha di London. Setiap hari raya itu datang, setiap itu pula saya rindu kampung dan berharap bisa merayakannya di negeri sendiri. Namun bagaimanapun juga, London adalah tempat tinggal saya sekarang. Mau tidak mau, saya harus ‘menghidupkan’ hari raya itu dan berhenti berkhayal setiap hari raya datang. Mensyukuri apa yang ada adalah jauh lebih baik daripada mencaci dan mencibir apa yang ada di depan mata.

Kebetulan saya menetap di daerah komunitas muslim terbesar di London yakni di London timur. Area ini banyak dihuni oelh muslim keturunan Bangladesh dan sedikit Pakistan, India serta Somalia. Adapun Briton (istilah bagi pemegang british passport) yang berketurunan Arab banyak berada di wilayah lain.

Saya merasa beruntung sekali bisa tinggal di daerah komunitas muslim yang campur jadi satu dan merasa bersaudara meski warna kulit, bahasa, dan madzhab kami berbeda.

‘Alim Bikin Bersatu

Setiap menjelang hari raya, entah itu Idul Fitri atau Idul Adha, ada sebuah tradisi yang tidak banyak terjadi di Indonesia, yakni berburu informasi hilal. Biasanya, informasi resmi bulan sabit datang dari masjid besar di London pusat atau masjid London timur yang baru – baru ini (tahun 2008) diresmikan oleh Islam Channel sebagai masjid terfavorit di seluruh Britania Raya. Saya sendiri sering mengacu ke East London Mosque atau lebih seringdisebut sebagai ELM yang terletak di jalan Whitechapel.

Karena dua masjid ini banyak dijadikan acuan, tak heran kalau perbedaan tanggal masehi hari raya di London jarang terjadi. Bahkan selama saya berada di London jarang terjadi. Bahkan selama saya berada di London, sekalipun, saya belum pernah menemukan perbedaan tanggal masehi dalam merayakan Idul Adha. Banyak muslim di London yang knowledgable (alim) tentang ajaran agama Islam. Banyak juga dari mereka yang faham bahwa untuk Hari Raya Idul Adha, acuan kita adalah wukuf di Arafah, Saudi Arabia. Dan karena pengetahuan mereka inilah, perbedaan itu juga bisa dihindari.

Warung Sayur Super Murah

Karena Idul Adha dirayakan di hari ke-10 Dzulhijjah, walhasil muslim di London kebanyakan sudah bisa mempersiapkan jauh – jauh hari. Di antara persiapan itu adalah beli baju baru, belanja ekstra daging, sayur, beras dan bahan – bahan pokok lainnya.

Pasar –atau yang lebih dikenal dengan istilah market- yang sangat terkenal di London timur adalah Upton Park dan Whitechapel Market. Keduanya adalah pasar besar yang menyediakan banyak daging halal dari mutu terbaik hingga mutu biasa. Ikan segar, sayur – mayur seperti terong, kangkung, kubis, wortel, kentang, dan segala macam buah – buahan tersedia di sini.

Pasar ini murah meriah ! Kalau kepengen dapat yang murah banget bisa dengan mencari warung “1 pound”. Stand ini berisi segala macam buah, lombok, sayur, bawang bombay, bawang putih, dan lain sebagainya yang ditaruh di baskom (mangkok besar). Satu baskom berisi sejumlah barang sejenis (satu item) dan harganya Cuma 1 pound, nggak lebih ! Hanya saja, kita harus pinter – pinter memilih kualitas seluruh barang dalam satu baskom itu. Karena kalo nggak cermat, bisa – bisa buah yang kita beli hari itu busuk di hari berikutnya.

Undangan Makan Rame – Rame

Kondisi yang menarik dari muslim di Inggris adalah kecenderungan mereka yang sangat welcome terhadap muslim yang lain. Mereka memiliki jalinan ukhuwah yang sangat kuat atar satu muslim dengan muslim lain meski beda negara. Memang ada grup Somalia, Pakistani atau Turkish yang punya masjid sendiri., khutbah jum’at berbahasa ibu mereka, akan tetapi untuk masjid – masjid yang didirikan dengan dana bersama biasanya terbuka untuk siapapun.

Wajar kalau kemudian ikatan ukhuwah itu mendorong satu sama lain saling menugndang untuk merayakan Idul Adha bersama dengan makan malam atau makan siang di rumah teman. Undangan itu ada yang bersifat individual, tapi ada juga yang diundangkan untuk umum semisal undangn perayaan Idul Adha bersama di masjid besar. Masjid yang sering mengadakan acara ini adalah East London Mosque dan Masjid Besar London pusat di area Regent Park.

Untuk orang yang tidak punya keluarga besar seperti saya, saat hari raya bisa menjadi saat yang paling menyedihkan jika acara temu bersama dan makan bersama ini tidak ada. Komunitas muslim Indonesia sendiri biasanya merayakan bersama di wisma duta Indonesia untuk keluarga Indonesia yang berdomisili di London dan sekitarnya.

Kemana Hewan Kurbannya ?

Satu tradisi yang sepengetahuan saya berbeda dengan negeri muslim adalah acara penyembelihan hewan kurban. Hampir tidak pernah didapati acara penyembelihan pada masjid di Inggris yang notabene-nya berhasil mengumpulkan ratusan hewan kurban. Lho, kemana dong hewan kurbannya ?

Begini di Inggris terutama di London banyak sekali organisasi yang mengelola sedekah, zakat dan hewan kurban. Biasanya yang mereka lakukan adalah membayar sejumlah uang lewat organisasi Islam ini atau lebih dikenal dengan nama charity organization sesuai dengan jenis hewan kurban yang mereka inginkan kemudian si empunya hewan kurban ini juga berhak menentukan kemana daging kurban ini akan didistribusikan. Ada sekian banyak pilihan untuk sasaran pendistribusian, mulai dari muslim di Palestina, Pakistan, Bangladesh, Afrika dan juga termasuk Asia Tenggara. Karena itulah, jarang sekali bahkan sekalipun saya belum pernah menemukan perayaan hari raya diwujudkan dalam acara makan bersama hewan kurban. Muslim di Inggris lebih suka membeli daging tersendiri dan mengirimkan hewan kurbannya untuk fakir miskin ke negeri muslim yang jauh.

Sholat ‘Id 4 Gelombang

Hari raya diawali dengan sholat ‘Id. Kebanyakan sholat ‘Id dilakukan di dalam masjid, tidak di lapangan atau di jalan raya. Sholat ‘Id di masjid – masjid besar terbagi menjadi 4 waktu. Dimulai dari pukul 08.00 kemudian 09.00, 10.00 dan terakhir pukul 11.00. Yang mau bangun pagi – pagi banget, silahkan hadir di sholat ‘Id pada jam 08.00. Untuk memudahkan para jama’ah, pintu masuk dan pintu keluar masjid dibuat berbeda yakni berseberangan satu sama lain sehingga tidak akan terjadi kasus berdesak – desakan antara jama’ah yang datang untuk kloter kedua, dengan jama’ah kloter pertama yang pulang.

Cara sholat ‘Id-nya pun kadang berbeda dari tahun ke tahun. Tahun lalu memakai madzhab Syafi’i, maka tahun ini bisa memakai madzhab Hanafi. Cara sholat kedua madzhab ini punya perbedaan pada cara dan jumlah takbirnya. Sebelum sholat ‘Id dimulai, biasanya sang imam menjelaskan mekanisme sholat hari itu dengan 3 bahasa : Inggris, Arab dan Bengali (karena memang kebanyakan muslim keturunan Bangladesh berada di London timur). Setelah sholat selesai, diikuti khutbah yang juga disampaikan dalam 3 bahasa diatas. Khutbah hanya berlangsung sekitar 15 menit. Setelah itu semua kembali ke rumah masing – masing.

Yang patut disayangkan adalah bahwa tak jarang para lelaki muslim harus kembali bekerja seusai sholat ‘Id. Tidak ada hari libur kecuali ‘Id-nya jatuh di akhir pekan, bahkan adakalanya banyak muslim dan muslimah yang tidak bisa mengikuti sholat ‘Id karena mereka harus bekerja di hari ‘Id. Fenomena seperti inilah yang membuat kita semakin merasakan perbedaan merayakan ‘Id di negri barat dengan negeri muslim seperti Indonesia.

Sore atau siang hari barulah kita bisa ke rumah teman yang memang mengundang kita untuk makan siang atau makan malam. Lagi – lagi tradisi berkunjung tanpa undangan dan tanpa pemberitahuan sangat tidak umum di Inggris karena memang setiap orang sibuk dengan urusannya masing – masing. Ironis, tapi itulah kenyataannya.

Menu Idul Adha ala Bengali

Tahun lalu saya diundang keluarga Bengali (Bangladeshi) yang bertempat tinggal tak jauh dari apartemen saya. Mereka mengundang teman saya yang lain. Setelah sampai dan menyampaikan bingkisan kecil sebagai tanda terima kasih untuk undangan makan malamnya, maka kami dipersilahkan menuju meja makan yang sudah siap dengan menu lengkapnya.

Diawali dengan samosa (semacam kue roseles) dengan kulit luar dan di dalamnya berisi sayur yang dibumbui Indian spice atau daging yang sudah diolah dan dibumbui juga. Ada juga pakura yaitu tepung ysng dicampur sayuran yang sudah dirajang dan dibumbui kemudian digoreng serta cheak peas yang sedikit basah dengan saos kari India/Bangladesh.

Setelah itu, kami disuguhi menu utama berupa nasi biryani dan nasi pilau yang sedap, semacam nasi goreng tapi bercampur daging dan berbumbu/spicy serta dimakan dengan kari daging, ayam dan kari sayur yang dimasak dengan bumbu serbuk. Suguhan ditutup dengan manisan atau sweet, bisa berbentuk baklava –manisan yang juga dikenal di negeri Turki dan Arab- atau dengan puding yang terbuat dari nasi dan rasanya manis.(selesai)

(Ahmad Fathonah)

————————-mechanicalengboy.wordpress.com————————

Sumber :
Majalah El-Fata Edisi 12 Vol.8, 2008

Ayo teman - teman. Monggo dikeluarkan unek2nya !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: