Leave a comment

Jabir Ibnu Hayyan Al-Kufi – Perintis Ilmu Kimia Modern


Daerah sungai Nil yang lumpurnya hitam oleh penduduk Mesir purbakala disebut “Khem” atau “Khmi”, artinya tanah hitam. Ketka muslim Arab datang ke Mesir pada abad ke-7, mereka sangat tertarik dalam seni kimiawi yang ditemukannya. Mereka menambahkan awalan Arab “Al”, maka terukirlah kata “Al-Khemi” yang artinya seni daerah aliran sungai Nil Mesir. Kelak, pada pertengahan abad ke-16 awalan “Al” terlepas sehingga alkemi menjadi kimia.
Sejak awal abad pertama Masehi proses kimiawi telah dipraktekkan tanpa pengetahuan tentang ilmu kimia itu sendiri. Logam sudah diekstraksi dari biji – bijiannya, pigmen alami dan zat pewarna sudah diproduksi dari bahan dasar tumbuhan. Usaha untuk memahami latar belakang tumbuhan dengan teknologi primitif ini terhambat di tangan Yunani Kuno karena pengaruh Aristotelenisme yang cenderung ke arah pemikiran metafisika; kimia embrionik melalui fase mistisisme dan magis. Ini fase pertama dari alkemi.
Hanya pada akhir abad ke-8 dan selama abad ke-9, ilmuwan muslim mulai tertarik pada perkembangan alkemi, ketika sumbangan monumental metode eksperimentasi pertama kali diperkenalkan ke dalam dunia sains. Kota Harran di Syria yang menjadi saksi kebangkitan kembali kehidupan intelektual pada awal perkembangan peradaban Islam. Ketika itu kota Harran sudah masyhur sebagai pusat perkembangan alkemi, menjadi pusat pertemuan dan “bejana” peleburan alam pikiran naturalistik Persia, Syria, dan Yunani. Kehidupan intelektual di ketiga negeri tersebut menimbulkan lingkungan yang subur  bagi perkembangan alkemi. Demikian pula praktiknya karena Harran sudah menjadi pusat perdagangan logam mulia, belerang, boraks, dan bahan lain yang lazim dipakai oleh para alkemis.
Dalam kimia seperti halnya pada bidang lain, ilmuwan muslim lebih dahulu menerjemahkan buku – buku dari zaman sebelumnya. Tetapi warisan kimiawi dari Yunani mistik, seperti halnya “batu kearifan” yang bisa mengubah logam biasa menjadi emas dan tidak dipungkiri, ilmuwan muslimlah yang pertama kali memperkenalkan metode eksperimentasi dalam analisis keilmiahan. Mereka menjadi pionir dalam pengujian teori – teori alkemi yang saat itu berkembang dengan teknik eksperimentasi.
Dalam perwujudan proses ini ditemukan banyak produk batu, yang namanya dalam bahasa – bahasa Eropa masih berbau bahasa Arab seperti alambic (al-alambiq), alcohol (al-kuhul), alkaline (al-kalawi), arsenic (al-zirnikh) dan lain sebagainya.
Di masa itulah hidup Jabir ibnu Hayyan al-Kufi (738 – 813 M) yang berasal dari Kufah, Iraq dan dikenal barat sebagai Geber. Ialah yang pertama menjadikan alkemi dari seni menjadi sains, yaitu tahap aurifikasi (proses produksi emas atau perak dari logam lain) menjadi kategori eksperimentasi berdasar kuantitatif dengan peralatan yang dibuatnya sendiri. Hingga kini, aurifikasi masih ada yang dipakai dalam laboratorium modern.
Bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus, ia mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan dan hewani. Jabir biasa mengakhiri uraian suatu eksperimen dengan menuliskan,

Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin. Saya mencoba mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam.
Dari Damaskus Ia kembali ke kota kelahirannya di Kufah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya ditemukan dengan didapati peralatan kimia yang hingga kini masih mempesona, dan didalamnya terkulai sebatang emas yang cukup berat..!! (Subhanallah…)
Jabir ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi dan oksidasi – reduksi. Segalanya ini telah dilukiskan tekniknya, praktis hampir semua digunakan sebagai teknik kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.
Seluruh karya Jabir Ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang bisa diselamatkan sampai pada zaman Renaissans di Eropa. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari berbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Diantara bukunya yang terkenal adalah Al-hikmah al-falsafiyyah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin berjudul “Summa Perfectionis.”
Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia menyatakan,

Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dikehendaki memisahkan bagian – bagian terkecil dari dua kategori  itu oleh instrumen khusus, maka akan tambah bahwa setiap unsur mempertahankan karakteristik teoritisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing – masing unsur.”
Apa yang diuraikan Jabir (776 M) lebih dari 1200 tahun lampau adalah apa yang dinamakan oleh kimia kontemporer reaksi kombinasi (dua zat bereaksi membentuk produk tunggal). Penjelasan kimia kontemporer tidak jauh berbeda dengan yang diberikan oleh Jabir. Tetapi dunia sains barat tidak memandang Jabir sebagai perintis kimia modern. Kehormatan itu malah diberikan kepada Antoine Laovoisier (1743 – 1794) sebagai pendiri kimia modern. Lavoisier pun dinobatkan sebagai penemu hukum konservasi kekekalan massa dalam reaksi kimia. Padahal, jauh sebelum Lavoisier, alkemis dan sekaligus astronom Andalusia dari Majriti (sekarang Madrid), Abu Qasem Maslamah al-Majriti (950 – 1007) di dalam bukunya Rutbah al-Hakim (buku alkemi pertama yang ditulis di Spanyol) telah mencatat operasi kimiawi yang menarik, termasuk pembuatan merkuri oksida yang warnanya merah dengan membakar merkuri memakai api lembut pada dapur yang khusus tanpa ada perubahan berat. Dengan kata lain, ya hukum kekekalan massa tersebut. Lavoisier sesungguhnya hanya mengulangi percobaan Maslamah al-Majriti pada tahun 1772 M, namun malah Ia yang memperoleh publisitas sebagai penemu hukum konservasi massa dalam ilmu kimia.
Teori keseimbangan Jabir al-Hayyan merupakan terobosan baru dalam prinsip dan praktek alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, Jabir telah berupaya mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat – zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari suatu angka dan penaruhnya atas hidup manusia yang diterapkannya dalam kaitan dengan huruf hijaiyyah bangsa Arab) untuk memperkirakan proporsi ilmiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti eksoterik, karena kemudian telah menjadi pionir dalam penulisan jalannya reaksi kimia.
Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan adalah hasil penyulingan tawas, ammonia khlorida, potassium nitrat dan asam sulferik. Berbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen alkemi yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses dalam dunia industri. Penguraian tersebut menghasilkan sejumlah asam dan tercantum dalam salah satu manuskripnya yang berjudul Sandaqal Hikmah (Rongga Dada Kearifan).
Di dalam buku tersebut, Jabir menjelaskan bahwa soda dan potas sangat dibutuhkan untuk pembuatan gelas dan sabun. Notron dan abu tumbuh – tumbuhan adalah sumbernya. Notron adalah sodium karbonat, didapati dalam keadaan alamiah di Mesir dan di padang pasir bagian barat, di semenanjung Arabia. Variasi dari Notron inilah yang kemudian di Eropa diberi simbol kimia Na untuk sodium (latin : Natrium).
Begitulah ketekunan Jabir dalam upayanya melakukan penelitian kimia serta menjelaskan unsur – unsur serta reaksi yang ditimbulkannya. Walaupun nama Jabir disembunyikan barat, tetapi jasa – jasa beliau sebagai pengembang ilmu kimia tak dapat dielakkan.
(Ahmad Fathonah)

————————-mechanicalengboy.wordpress.com————————

Sumber :
Ditulis ulang dengan sedikit perubahan dari Buku Berjudul “Khazanah Orang Besar Islam – Dari Penakluk Jerussalem Hingga Angka Nol” terbitan Penerbit Republika, 2002.

Ayo teman - teman. Monggo dikeluarkan unek2nya !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: